Cerpen : Senja di Ujung Jembatan
Senja di Ujung Jembatan
Hujan turun perlahan di sore itu. Langit Kota Padang tampak kelabu, seolah ikut menyimpan kesedihan yang dirasakan Arka. Remaja kelas sebelas itu duduk di ujung jembatan kecil dekat sungai, memandangi air yang terus mengalir tanpa peduli pada siapa pun.
Sudah hampir seminggu Arka tidak masuk sekolah. Sejak ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai sopir angkot, keadaan rumah mereka berubah drastis. Ibunya mulai berjualan gorengan di depan rumah, sedangkan Arka diam-diam bekerja membantu di warung fotokopi sepulang sekolah.
Namun, bukan kemiskinan yang paling membuatnya sedih. Yang paling menyakitkan adalah ejekan teman-temannya.
“Arka sekarang jadi tukang fotokopi!” kata Reno sambil tertawa keras di kantin sekolah.
Beberapa teman ikut tertawa. Arka hanya diam sambil menunduk. Sejak saat itu, ia mulai menjauh dari siapa pun.
“Kalau sekolah cuma bikin malu, lebih baik aku berhenti saja,” gumamnya pelan.
Suara langkah kaki membuat Arka menoleh. Seorang lelaki tua membawa payung hitam berdiri di dekatnya.
“Kamu sering duduk di sini akhir-akhir ini,” katanya ramah.
Arka tidak menjawab.
“Air sungai itu terus berjalan,” lanjut lelaki tua itu sambil duduk di samping Arka. “Kalau dia berhenti karena batu, mungkin dia tidak akan pernah sampai ke laut.”
Arka mengernyit. “Maksud Kakek?”
“Kamu sedang menghadapi batu dalam hidupmu.”
Arka terdiam beberapa saat. Entah mengapa, ia merasa ingin bercerita.
“Ayah saya kehilangan pekerjaan. Teman-teman mengejek saya karena kerja di fotokopi. Saya capek.”
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
“Dulu saya juga pernah jadi tukang semir sepatu,” katanya.
Arka menatapnya tidak percaya.
“Tapi saya tidak berhenti bermimpi. Sekarang saya pensiunan guru.”
Arka perlahan mengangkat kepala.
“Hidup bukan tentang seberapa keras orang menertawakanmu,” lanjut lelaki tua itu. “Tapi tentang seberapa kuat kamu bertahan.”
Hujan mulai reda. Cahaya jingga senja muncul di balik awan.
“Kamu tahu?” kata lelaki tua itu sambil berdiri. “Orang yang pernah jatuh biasanya lebih menghargai kehidupan.”
Sebelum pergi, lelaki itu menepuk pundak Arka.
“Jangan malu membantu orang tua. Itu bukan aib.”
Malam itu Arka pulang dengan pikiran berbeda. Ia melihat ibunya masih menggoreng pisang di dapur kecil mereka.
“Bu,” panggil Arka pelan.
Ibunya menoleh. “Kenapa?”
“Aku mau tetap sekolah.”
Mata ibunya berkaca-kaca.
Keesokan harinya, Arka kembali masuk sekolah. Ia tetap membantu di warung fotokopi sepulang sekolah. Beberapa teman masih mengejek, tetapi kini Arka tidak terlalu peduli.
Waktu berjalan cepat.
Tiga tahun kemudian, Arka berdiri di atas panggung aula sekolah dengan jas sederhana dan senyum lebar. Namanya dipanggil sebagai siswa penerima beasiswa universitas negeri.
Di antara tepuk tangan yang riuh, Arka melihat ibunya menangis bahagia di kursi belakang.
Dan di luar aula, hujan kecil turun seperti sore di ujung jembatan dulu—tempat seorang remaja hampir menyerah pada hidupnya.
Komentar
Posting Komentar